Belajar dari Silicon Valley

Sebagai manusia yang hidup dalam dunia teknologi, saya tentu tak asing mendengar nama Silicon Valley. Markas dari para mastah teknologi legendaris seperti Steve Jobs, Larry page dan Sergey Brin. Dan merupakan kampung halaman raksasa teknologi dunia seperti Apple, Google, Facebook, Intel, Cisco dan perusahaan besar lainnya. Dalam asumsi saya, Silicon valley ini adalah sebuah daerah dengan gedung-gedung tinggi dan didukung dengan peralatan yang lengkap dan canggih. Asumsi saya ternyata salah! Semenjak saya lulus dan berkecimpung di dunia startup, saya mulai mengetahui bahwa perusahaan segede Apple dan Google di mulai dari sebuah Garasi! Kok bisa?

Melawan Keterbatasan! Mulai dari GARASI MELANGKAH!

Stanford-university

Standford University adalah salah satu universitas ternama di dunia yang berada di California, Amerika Serikat. Saya senang sekali bisa berkunjung di kampus ini walau hanya dalam hitungan jam. Keberadaan kampus impian banyak mahasiswa IT, termasuks saya, ini tentu berpengaruh dalam pertumbuhan industry teknologi khususnya di California. Bahkan adanya Silicon Valley berkat dorongan beberapa professor Stanford yang ingin menciptakan industri teknologi di sekitar Universitas Stanford.

Dr. Frederick Terman adalah sosok berpengaruh yang mendorong William Hawlett dan David Packard untuk membuat startup disana. Namun karena keterbatasan modal, mereka memutuskan untuk memulainya dari garasi milik David Packard di salah satu kompleks perumahan Palo Alto.

birthplace of silicon valley

Pada tahun 1939, William Hawlett dan David Packard mulai menggunakan garasi ini untuk membuat startup mereka yang kini menjadi perusahaan bergengsi di dunia, HP Company. Siapa yang menyangka dari garasi, dua mahasiswa Stanford ini berhasil membuat perusahaan teknologi dunia. Yang perlu di ketahui, bagi orang Amerika, garasi adalah hal yang lumrah ada di sebuah rumah. Jadi jangan dibayangkan bahwa garasi yang dimiliki mereka adalah garasi mewah, karena mobil adalah kebutuhan primer bagi mereka.

Disini saya teringat dengan tulisan yang terpampang besar di Forward Factory, co-working space tempat saya bekerja sharing setiap hari-nya.

The journey of a thousand miles begins with a single step. – Lao Tzu.

Siapa yang mengira dari garasi ini Hawlett-Packard bisa menciptakan Perusahaan HP? Bahkan terinspirasi dari garasi ini, muncul “garasi-garasi” lain yang kini juga menjadi perusahaan besar dan berpengaruh di dunia. Salah satunya adalah garasi milik orang tua Steve Jobs yang kurang lebih berjarak 10km dari garasi milik Hawlett-Packard. Melalui garasi tersebut, Steve Jobs merancang komputer Apple pertama, dan lagi-lagi siapa yang menyangka dari garasi kecil itu, komputer hasil rancangannya sukses mempengaruhi teknologi dunia.

birthpalce of silicon valley

Silicon Valley yang konon katanya dahulu adalah lahan gersang kini menjadi pusat pengembangan teknologi canggih yang mahsyur. Melalui sebuah GARASI yang kini sudah resmi menjadi landmark sejarah nasional Amerika Serikat., lahir perusahaan-perusahaan teknologi berpengaruh di dunia.

Yang perlu digaris bawahi adalah sesuatu yang besar dimuka bumi ini dimulai dari sesuatu hal kecil. Contohnya nyatanya ya Silicon Valley ini, yang kini dikuasai perusahan-perusahan segede Apple, Google, Facebook, Intel, Cisco berasal dari sebuah GARASI!

Enaknya jadi anak muda di Indonesia yang terfasilitasi!

forward-factory

Anak muda Indonesia kini tak perlu khawatir dengan keterbatasan. Bahkan keterbatasan itu hampir tak terlihat. Semua segmen mendukung pertumbuhan teknologi di Indonesia, tinggal bagaimana kita sebagai anak muda memanfaatkannya. Kalo dulu Hawlett-Packard gak punya modal dan gak bisa sewa tempat untuk menuangkan segala ide untuk membuat HP Company, sekarang di Indonesia gak perlu khawatir dengan yang namanya Modal Tempat. Sudah mulai banyak coworking space yang ngasih space cuma-cuma untuk anak muda bikin startup. Bayangkan kalo di jaman Hawlett-Packard ada coworking space, bahkan mungkin sebelum Steve Jobs mengembangkan Apple, Hawlett-Packard sudah membuatnya duluan dan mungkin macbook pro with retina display udah ada sebelum tahun 2000an, who’s know?

coworking-space

Surabaya juga memiliki coworking space gratis dengan berbagai macam fasilitas untuk anak muda yang punya NIAT untuk membuat dan ngembangin Startupnya. Gak cuman dikasih space secara Cuma-Cuma, bahkan ada mentor yang siap untuk diajak sharing dan “dicuri” ilmu sebanyak-banyaknya dan lagi-lagi secara gratis. Sebagai anak muda khususnya di Surabaya, kamu akan manfaatin ini donk ya.

Secara Silicon Valley yang nyata ada di California itu berawal dari garasi sederhana kini jadi Perusahaan-perusahaan teknologi besar dunia. Bukan hanya mimpi donk ya akan muncul “Silicon valley” di Surabaya yang udah ada fasilitas ini. 🙂

12 thoughts on “Belajar dari Silicon Valley”

  1. Keren emang Silicon Valley, banyak diadopsi di berbagai kota di dunia. Bandung Teknopolis mungkin di masa mendatang akan menjadi landmark bagi Indonesia.

    Konsep Format Factory yang di Surabaya, harus diakui memang brilian. Namun, akan semakin dahsyat pengaruhnya jika ada homestay di dalamnya yg bs ditempati oleh calon developer dg biaya yg ringan. Sekali nyimplung, ya kayak mondok sekalian. Mengingat lokasinya yg berada jauh dari pusat kota, menginap dapat lebih efektif untuk melakukan banyak hal.

    1. Yaps! Setuju, tapi sebelum Bandung, mungkin Surabaya akan duluan menjadi Surabaya teknopolis 😀

      Nah, mungkin karena letak Forward Factory yang di area perkantoran, tidak memungkinkan untuk adanya homestay, ini memang sayang sekali sih. Secara dia sebenarnya bisa 24 jam di maksimalkan 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *