*Ria bersama ke-lima teman satu angkatan yang akhirnya LULUS!! Yay \(^^)/

Sepenggal Kisah Prosesi bersama Seperangkat Toga

Setahun silam, tepatnya tanggal 28 Maret 2015, pagi itu untuk kali pertama saya akan menggunakan seperangkat pakaian serba hitam dengan topi persegi lima yang menjadi incaran banyak kaum muda. Masih sangat jelas dibenak saya, persiapan pada hari H yang serba se-ada-nya, bahkan tak terlihat apa adanya. Semuanya seperti terencana dengan apik. Padahal tidak! Bagi saya prosesi saklar saat itu tak sesuai dengan perencanaan-perencanaan yang pernah saya impikan dahulu kala, saat saya begitu naïf. Namun, campur tangan Allah sangat-lah indah!

Kebaya Ospek Penyelamat!

* Ini ria menggunakan kebaya teman ospek yang baik hati. Sebelah kiri ria adalah Awank, dan sebelah kanan adalah Bulyan. Mereka berdua sohib ria dalam berjuang untuk wisuda :)
* Ini ria menggunakan kebaya teman ospek yang baik hati. Sebelah kiri ria adalah Awank, dan sebelah kanan adalah Bulyan. Mereka berdua sohib ria dalam berjuang untuk wisuda :)

Prosesi wisuda saat itu tak menjadi point utama lagi saat kelulusan. Saya sudah masuk di dunia kerja. Pikiran saya mulai terpecah. Tak lagi mementingkan diri sendiri, tapi juga keluarga dan amanah yang saya emban saat itu di sebuah perusahaan industry kreatif.

“Angan-angan proses wisuda yang lancar dengan kebaya cantik membalut tubuh yang lumayan tinggi ini mungkin hanya akan menjadi angan-angan”, batin saya.

Saya tak lagi sempat untuk hunting kebaya seperti teman-teman yang wisuda pada periode tersebut. Beberapa senior saya (kebetulan saya wisuda bareng kakak angkatan) mulai update status hunting kebaya, cari salon dan bahkan memesan kebaya khusus. “ Sepertinya saya kudu memakai kebaya yang dulu saya gunakan saat prosesi pelepasan di SMA”, guman saya dalam hati.

Saya tulis dalam status BBM kondisi saya saat itu. Di saat lainnya hunting kebaya, saya hunting list startup yang benar-benar punya purpose baik. Tiba-tiba datanglah sebuah private message dari seorang teman ospek yang memang sangat lama kami tak berjumpa. Singkat cerita, Bidadari dari London (nama pena dia, teman satu tim saat ospek) memberikan tawaran menarik. Dia menawarkan koleksi kebaya-nya dan gratis untuk  saya pinjam! Pomp!!

Bidadari dari London mulai mencoba kebaya dan memotretnya satu-satu, lengkap dengan jarit-nya, ia kirimkan foto itu kepada saya. Saya diperbolehkan memilih kebaya yang saya suka. Ini beneran kan? Gak salah kan?

Ini gak salah sama sekali. Saya mencoba meyakinkan diri saya dengan segala kekhawatiran saya, bahwa iya saya akan memilih kebaya dari teman saya ini. Kekhawatiran itu tentu muncul dalam benak. Saya takut dikerjai seorang teman yang sudah 3,5 tahun kami tak berhubungan, namun tiba-tiba ia muncul dan berbaik hati. *kala itu, saya suudzon dan berusaha eyakinkan diri dengan berprasangka baik, bahwa teman saya memang benar-benar ingin mempermudah jalan saya!

Dan yaps! Kurang dari tiga hari sebelum prosesi ini berlangsung. Saya baru bersinggah di Bangkalan. Saya khawatir Bidadari dari London lupa akan kebaya yang seharusnya dia bawa untuk saya kenakan. Namun kekhawatiran saya ternyata terlalu berlebihan.Sore hari (H-2), kami mulai saling berkirim pesan lagi dan sepakat untuk bertemu di kos-nya. Dan yippy! Kebaya cantik berwarna merah bata berada di tangan saya tepat sehari sebelum proses saklar itu! Ini hati saya lega-nya minta ampun! Hehe.

Kebaya dan seperangkat toga ini menjadi saksi hasil belajar dan bolak balik lab selama 3,5 tahun. Terbayar sudah dengan rasa syukur pindahnya tali topi toga dari kanan ke kiri. Terima kasih Bidadari dari London atas kebaya-nya! 🙂

Make up Artis Gebetan Teman

*ria bersama para MUA (makeup artist) :D
*ria bersama para MUA (makeup artist) :D

Perkara riasan muka saat wisuda sama hal-nya dengan kebaya. Saya berfikir sejenak ditengah kesibukan saya di dunia startup (saat itu). Jika saya harus booking tempat di salon yang memang sudah biasa me-dandan-i para wisudawan, tentu akan ramai dan lama antrinya. Sedangkan saya tak ada kendaraan di kos, sudah telalu banyak merepotkan teman-teman di kos. Jadi untuk bisa diantarkan dini hari ke Salon Rias, saya coret dalam list di list angan-angan saya.

Sama halnya dengan kebaya yang saya ceritakan diatas. Saat saya menuliskan status yang sama, ada private message lain dari seorang teman. Kali ini teman satu angkatan saya, sebut saja dia Majas. Saat itu dia bertanya dengan nada khas-nya dalam chat. Sok perhatian tapi dengan gaya jaim-nya. Ia bertanya apakah saya sudah booking salon untuk rias wajah. Dan saya hanya menjawab belum. Dia malah membalas dengan keadaan saya yang memang sudah sibuk dengan pekerjaan, jadi cukup di mengerti, pikirnya.

Ini anak tidak mendukung saya malah membuat saya meng-iya-kan kenyataan yang ada. Kzl. But, wait! Dia menawarkan hal yang menarik. Salah satu teman wanitanya (saya menyebutnya gebetan dia) yang merupakan Queen kampus sudah biasa merias wajah teman-temannya. Dan saya ditawari untuk berkenalan dengannya! Wuasiiikkk!

Singkat cerita saya sudah kenal dengan Ima, si cantik duta dari Universitas Trunojoyo Madura. Ima berjanji untuk datang ba’da subuh untuk merias wajah saya. Saya sedikit cerewet diawal, saya minta Ima untuk merias wajah saya tipis saja. Tak perlu tebal seperti memakai topeng. Jilbab saya-pun tak perlu di aneh-aneh-in. Bahkan saya mencontohkan gaya jilbab yang saya mau, hanya perlu satu peniti dan satu jarum pentul (gaya jilbab yang sudah biasa saya gunakan untuk ke kampus, simple dan rapi). Dia hanya mengangguk dan meminta saya diam serta percaya saja padanya!hehe

Dan yay! Make up dari Ima memang terlihat natural (gak emak-emak banget), gak tebal dan mangling-i (ini bahasa Jawa, untuk alih ke bahasa Indonesia saya tak punya kosakata yang cocok.haha). Saya heran juga dengan wajah saya yang ternyata saat dirias lumayan cantik juga.hehe. But wait! Jilbabnya beda dengan apa yang saya kehendaki. Tapi justru tambah modis dan cantik! 🙂

Terima kasih Ima dan temannya 🙂

Fantovel Cokelat 5 menit Sebelum Berangkat!

“Give a girl the right shoes, and she can conquer the world” – Marilyn Monroe

* Sepatu Ria VS Sepatu Marilyn Monroe
* Sepatu Ria VS Sepatu Marilyn Monroe

Yap! Saya setuju dengan quotes yang selalu menjadi andalan para gadis untuk merajuk membeli sepatu. Sepatu memang menjadi hal yang saya suka. Namun, bukan sepatu berhak tinggi seperti kebanyakan orang. Saya lebih suka sepatu flat atau sneakers yang memang enak diajak jalan seperti barisan para mantan, *eh emang punya mantan? Peace pada diri sendiri.

Wedges dan High hells adalah “musuh” bagi saya.Selain saya sudah cukup tinggi, sepatu berhak sekian centimeter membuat telapak kaki saya ngilu beberapa hari. Kamu juga -kah?

Saya sudah menyiapkan sepatu flat bewarna navy. Ya, karena memang sepatu itu yang saya punya, lainnya sneakers bertali, agak lucu kalau saya memakainya dengan kebaya. Sepatu flat ini menjadi pilihan saya untuk menemani langkah menuju mimbar penganugrahan di Gedung Cakra, Universitas Trunojoyo Madura. Saya sudah cukup senang dalam hati karena akan tersenyum gembira, selain karena wisuda tentu saja, juga tak perlu menahan kaki di atas sekian centimeter ganjalan.

Langkah saya terhenti saat teman-teman satu kos pada protes. Saya sudah berjalan hampir keluar pagar dan berharap tak ada yang tahu bahwa saya menggunakan sepatu flat berwarna navy  (ini terlihat mencolok sekali, mungkin karena kebaya yang saya gunakan bewarna merah bata kecoklatan, fyuh). Teman-teman kos pada heboh, ibu dan kakak saya juga bertanya-tanya, kok bisanya saya mempersiapkan sepatu flat itu.hehe. Walhasil, teman sekamar saya langsung teriak dan bilang, “Aku punya wedges yang cocok mbak!” lalu ia berlalu ke kamar dan mengambil wedges cokelat, lalu menghampiri saya bak punggawa pangeran yang sedang berlari menuju Cinderella agar segera mencoba sepatu yang ia bawa.hehe *peace Aiiimmmmmm 🙂

Dan sepatu cokelat ini menemani langkah saya yang dag dig dig berjalan diatas karpet merah saat dipanggil untuk menerima penghargaan Mahasiswa terbaik dari Fakultas Teknik. Terima kasih Faim sepatu-nya! 🙂

Mobil Rental bak Kereta Kencana!

wisuda ria
*finally they come! :D

“Dek. Untuk wisudamu depan, yang hadir kesana ibuk sama mbak aja ya, mas baru aja lamaran dan mau nikah, ibuk udah habis tabungan banyak”, bisik mbak saat saya akan berangkat kembali ke Surabaya. Seingat saya, kalimat itu terucap dua pecan sebelum prosesi wisuda dilaksanakan.Dengan berat hati saya menunduk, mengiyakan.Yah, saya sudah tak afa gairah untuk datang ke acara wisuda. Boro-boro memikirkan kebaya dan sepatu yang harus saya kenakan, bahkan saya akan kebingungan menjemput ibu dan mbak ke stasiun jika memang hanya mereka berdua yang akan datang. Pikiran saya mulai tidak, sampai saya teringat suatu hal. Tabungan saya hasil review suatu produk masih ada di tabungan mas! Haha, ini bisa menjadi  AS card bagi saya.

Saya langsung menghubungi mas dan adek di rumah dengan mengusulkan uang itu digunakan untuk carter mobil. Tentu agar ibuk dan mas tak pusing memilah-milah tabungan untuk biaya pernikahan mas. Alhamdulillaaaaahhhh! Saran saya disetujui.

Meskipun tak semua kakak saya hadir.Ibuk yang bisa hadir tanpa kesusahan berpindah-pindah transportasi umum adalah hal yang paling sangat dan sangat saya syukuri. Anak gadisnya yang sok mandiri ini akhirnya bisa menggenakan seperangkat toga dan berfoto bersanding dengannya! Jadi kapan bisa foto bersanding dengan anak gadisnya ini dan mantu beserta seperangkat alat sholat yang dibawa? *ups

Mungkin kisah saya akan terasa biasa saja, mungkin juga banyak kisah lain para wisudawan yang jauh akan lebih menginspirasi.  But See? Betapa Allah memberikan kemudahan disaat ada berbagai rintangan?

Kebaya dari teman ospek, sepatu teman sekamar, make up gebetan teman, dan mobil rental yang membawa keluarga dari Pare ini menjadi saksi bahwasanya Allah tak akan membiarkan hamba-Nya berlama-lama dalam kesempitan. Allah akan memberikan nikmat dengan kemudahan-Nya dari berbagai tangan teman, langkah saudara atau bahkan doa dari orang-orang yang pernah singgah dalam hidup kita. Inna ma’al usri yusro..

*Ria bersama ke-lima teman satu angkatan yang akhirnya LULUS!! Yay \(^^)/
*Ria bersama ke-lima teman satu angkatan yang akhirnya LULUS!! Yay \(^^)/

*mengenang satu tahun mengenakan seperangkat pakaian serba hitam bernama Toga 🙂
** Happy Graduation buat teman angkatan 2011 yang Wisuda tgl 26 Maret 2016!!! Yay, Welcome! 🙂

9 thoughts on “Sepenggal Kisah Prosesi bersama Seperangkat Toga”

  1. haruskah saya comment disini? tapi apa daya diri ini pengen banget comment disini setelah liat fotomu, beneran kamu cantik juga kalo pake makeup ya

  2. Tulisannya udah kayak novel…sisa dikasih bumbu2 pangeran yg datang menjemput setelah graduation hahahahaah kereeeen. Ajaaaar yah kakak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *