Close
meetmeaftersunset

Menghadirkan rasa yang berbeda – Meet Me After Sunset

Mimpiku sesederhana waktu, waktu yang mengajarkan aku, bernafaslah dengan iramanya, irama kehidupan” – Meet me after sunset

Masa putih abu-abu konon katanya menjadi masa yang paling indah karena selalu dibumbui dengan pertemanan, persahabatan dan cinta. Pelabelan makna cinta yang kurang tepat (menurut saya) dengan pacaran membuat drama kehidupan remaja menjadi semakin “mendrama”. Bahkan jika saya menoleh kebelakang, gaya berpacaran teman-teman saya jaman SMA dulu dan anak jaman SMA sekarang nampaknya sudah sangat berbeda. Saya sendiri memang tidak menganut paham pacaran, jadi tidak bisa bercerita tentang pengalaman. Hanya saja, saya bisa melihat dan mendengar gaya berpacaran mereka (anak jaman dulu dan sekarang).

Agak miris memang, karena berasa ada kemrosotan akhlaq, kalo terlalu islami, maka kita sebut saja sikap atau attitude. Memang tidak bisa digeneralisasi, namun kebanyakan yang saya lihat kok begitu. Hal ini tentu juga dipengaruhi oleh apa yang mereka tonton. Mulai dari sinetron di TV yang menayangkan pacaran dan segala adegannya adalah merupakan hal yang biasa, dan juga film percintaan remaja yang sudah biasa dengan pegangan tangan, peluk dan bahkan cium pipi atau dahi.

Namun berbeda dengan film cinta remaja, Meet me after Sunset, yang baru saya tonton dalam acara Press Screening pada tanggal 09 februari 2018 bersama Blogger Crony. Ia menghadirkan rasa yang berbeda meskipun dengan nama cinta. Film ini benar-benar digarap untuk remaja tapi ternyata dewasa pun dapat menikmatinya. Hal ini terlihat saat kemaren Press Screening yang dihadiri lintas usia juga. Proses produksi filmnya bahkan berjalan hingga satu tahun untuk memberikan hasil yang maksimal dan apik.

Apa yang membuat Meet me after Sunset ini berbeda?

meetmeaftersunset

Film yang dibintangi oleh Maxim Bouttier, Agatha Chelsea, Billy Davidson, Yudha Keling, Iszur Muchtar, Febby Febiola, Oka Sugawa, Marini Soerjosoemarno dan yang lainnya ini diproduksi oleh MNC Pictures. Filmnya memang genre remaja, diatas 13 tahun baru bisa nonton film ini. Filmnya cukup romantis tapi tidak ada unsur “mesra” yang berlebihan. Apalagi untuk remaja. Itu menjadi point penting film ini. Saya cukup menikmati filmnya. Tidak ada gandeng tangan, pelukan apalagi ciuman, dimana ketiga adegan ini biasanya ada di film percintaan remaja jaman now.

Saya bersyukur mas Danial Rifki, mensutradarai film ini dengan Apik. Semua unsur digunakan di sini. Ada kesan mistis, dongeng, drama, keluarga, cinta, teman, sahabat, imajinasi, semuanya tumplek blek jadi satu. Kemasannya menarik, jadi keribetan berbagai unsur itu juga masih nyambung-nyambung saja.

Sempat bercakap dengan mas Danial mengenai proses pembuatan film ini dan ternyata produksinya cukup lama, satu tahun. Hal ini karena proses editing dibelakang dimana saat pengambilan gambar kebanyakan siang hari dan harus diubah di malam hari. Hal ini dibantu dengan teknologi Computer Generated Imaginary.  Saya bayangin editing film siang ke malam pasti ini yang bikin lama, ditambah lagi filmnya memang banyak sentuhan yang apik.

Selain itu, mas danial memang terinspirasi dari banyak referensi film, selain pembuat film, ia juga penggemar film. Jadi kalau ditanya inspirasinya dari mana, ya banyak! Saya sendiri saat melihat posternya sudah menebak-nebak,

“sedikit dongeng nih kayaknya karena mirip sama cerita serigala dan gadis pertudung merah, eh tapi ada flyer bergambas astronot, mungkin mirip sama film Midnight Sun (タイヨウのうた, Taiyō no Uta) dari Jepang nih, eh atau jangan-jangan vampire ala-ala kayak sinetron.”  – ini pembicaraan saya dalam otak.

Buku catatan peran utama perempuan, tapi pernah terbawa oleh pemeran utama laki-laki
Buku catatan peran utama perempuan, tapi pernah terbawa oleh pemeran utama laki-laki

Film ini cukup bagus karena nilainya yang dikemas apik tanpa bumbu-bumbu cinta yang bernafsu. Kalau kata mas Danial, ”  “Ini film cinta remaja yang berbeda, tidak ada pegangan tangan, ciuman, pelukan, tapi dihadirkan dengan rasa yang sama. Itu memang hal yang sengaja ingin kita hadirkan untuk mengedukasi kalau cinta remaja nggak perlu yang seharfiah itu. Kalau mau sayang nggak perlu pelukan”. Ditambah lagi ada pesan tersirat dimana mewujudkan mimpi dan cita-cita itu hak bagi semua orang. Seperti kutipan di atas yang saya ambil dari buku diary pemain utama perempuannya.

Jika penasaran, kalian bisa buka trailernya di Youtube. Film ini akan tayang pada tanggal 22 Februari 2018 nanti. Selamat menonton!

7 thoughts on “Menghadirkan rasa yang berbeda – Meet Me After Sunset

  1. Ini filmnya keren banget dan lain dari pada yang lain ya, Mbak. Aku paling terpukau dengan makna tersembunyinya itu loh, kalau cinta itu tak perlu diungkapkan dengan kata-kata maupun sentuhan, tapi perlu dengan tindakan. Jadi pengen nonton film ini lagi ih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *