blogger kartinian

Kartini, Film Biografi yang Bernilai

Nduk, ibuk itu cuman pengen anak ibuk itu bisa sekolah. Kalo bisa sampe SMA, jangan kayak ibuk yang berhenti di kelas 4 SD. Lulus SMA ibuk wis seneng – Ibuk

Kurang lebih begitulah kalimat yang sering ibuk ucapkan. Bisa melihat anak-anaknya sekolah sampai tamat SMA, ibuk sudah bahagia dan sangat bersyukur sekali. Bagaimana beliau benar-benar harus bisa menyisihkan uang setiap hari untuk menyekolahkan ke 6 anaknya yang masih sekolah saat bapak meninggal. Bahkan saat itu saya masih kelas 1 SD, tidak tau menau kenapa tiba-tiba rumah ramai dengan orang. Kakak-kakak saya terlihat menahan tangis dan paman saya memangku saya dengan muka iba. Saya tak mengerti saat itu.

Rasa syukur tentu tak terkira, Alhamdulillah bahkan sampai saat ini saya masih bisa meneruskan pendidikan lanjut saya. Tentu tak terlepas dari doa ibuk di sepanjang sepertiga malamnya.

Bulan April ini sangat istimewa bagi saya. Karena pada bulan inilah ibuk saya dilahirkan, dan pada bulan inilah hari peringatan lahirnya Kartini yang dengan perjuangannya dan juga wanita-wanita di sekitarnya membuat jalan yang lebih mudah untuk kami, perempuan, dalam menempuh pendidikan.

April tahun ini semakin istimewa dengan hadirnya film Kartini yang di sutradarai oleh Hanung Bramantyo membawa kesan yang berbeda dari Kartini. Ya, Kartini adalah pahlawan bagi kami perempuan, namun belajar tentangnya juga butuh perjuangan. Karena belajar sejarah tak semudah yang saya kira, baik membaca ataupun melihat filmnya, akan cepat merasa bosan.

Namun Pak Hanung membawa sosok bersejarah ini dengan sangat berbeda. Dengan sentuhan drama, karakter Kartini yang diperankan oleh Dian Sastro begitu sangat menyenangkan. Lincah, ceria dan tidak membosankan, tanpa mengurangi value dari Kartini yang sesungguhnya.

IMG_20170412_164155

Bersama Komunitas BRID dan Prudential Indonesia, tanggal 12 April lalu tepat sekali dengan hari ulang tahun Ibuk Saya, saya menonton film ini. Beruntung saya bisa bertemu langsung dengan si empunya film, yaitu Bapak Hanung. Beliau menyatakan bahwa film ini dibuat justru tidak hanya untuk perempuan, namun untuk laki-laki juga. Agar kaum adam ini lebih memahami dan menghargai perempuan.

Saya menonton untuk kedua kalinya pada 23 April lalu bersama 3 teman saya yang ketiganya adalah laki-laki. Sebetulnya saya berniat menonton saat tanggal 21 tepat, namun sayangnya dua diantara teman saya tersebut sedang disibukkan dengan pekerjaan. Dan bagaimana perasaan saya saat menonton untuk kedua kalinya?

SAMA. Saya sangat terkesan dengan Film ini. Tetap dag dig dug, tetap ketawa, dan tetap menangis dengan adegan-adegan  yang dimainkan apik oleh Dian Sastro, Ayushita dan Acha. Ditambah peran Yu Ngasirah yang berhasil membuat saya semakin merinding.

Disamping sosok Kartini yang mengangumkan dengan perjuangannya dan kegigihannya untuk mendirikan sekolah, saya terkagum dengan sosok Kartono, kakak Kartini yang sependek saya tahu adalah seorang dokter yang cerdas dan beliau lah inspirasi dari Kartini. Diperankan oleh Reza Rahardian dengan apik, membuat saya merinding juga dengan kata demi katanya yang bernilai dalam film ini. Kartini menjadi haus sekali akan ilmu saat kakaknya memberikan dia sebuah kunci. Kartini menjadi sosok yang Knowledge Seeker banget. Dia menularkan semangat membaca dan mendapatkan ilmu kepada adik-adiknya juga, sesuai dengan pesan kakaknya.

Selain Kartono, saya dibuat sangat kagum dengan Yu Ngasirah. Dibalik sosok anak yang hebat ada Ibu yang benar-benar mendukungnya dan mendoakannya. Beliau mengajarkan banyak hal kepada Kartini. Perhatiannya, kasih sayangnya, ajarannya dan kesabarannya mengingatkan saya dengan ibuk saya. Kalimatnya tentang bakti membuat saya merinding, ya, Bakti.

*maaf blured :D
*maaf blured :D

Saya sangat merekomendasikan film ini untuk ditonton baik oleh anak-anak maupun dewasa. Ketiga teman saya (laki-laki) ini juga puas melihat film Kartini. Kata mereka, dari sini mereka bisa menjadi semakin menghargai sosok wanita di kehidupan mereka.

Maju terus per-film-an Indonesia! Angkat budaya, sejarah tanpa mengurangi value didalamnya! Sukaaaakkk 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *