Masjid Abdul Gafoor

Selamat Hari Santri Nasional, Negeri Para Santri

Pada tahun 2011, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama mencatat jumlah santri pondok pesantren di 34 provinsi di seluruh Indonesia, mencapai 3,65 juta yang tersebar di 25.000 pondok pesantren. Dan jumlah itu tent uterus bertambah setiap tahunnya. Berapa juta jiwa ya jumlah santri tahun 2017? Interesting!

Jumlah santri yang luar biasa banyak ini adalah potensi luar biasa dan tentu memiliki dampak besar bagi bangsa. Menurut kamu apa peran santri di Indonesia?

Mengapa ada Hari Santri Nasional?

“Sejarah mencatat, para santri telah mewakafkan hidupnya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan tersebut. Para santri dengan caranya masing-masing bergabung dengan seluruh elemen bangsa, melawan penjajah, menyusun kekuatan di daerah-daerah terpencil, mengatur strategi, dan mengajarkan kesadaran tentang arti kemerdekaan,”

Kalimat tersebut adalah kalimat dari Bapak Presiden Jokowi di hadapan para santri, ulama, dan tokoh-tokoh agama yang hadir di Masjid Istiqlal Jakarta, Kamis 22 Oktober 2015 yang saya kutip dari pikiran-rakyat.com.

Penetapan hari santri nasional sendiri menurut Pak Jokowi, dilakukan agar kita selalu ingat untuk meneladani semangat jihad ke-Indonesiaan para pendahulu kita, semangat kebangsaan, semangat cinta tanah air, semangat rela berkorban untuk bangsa dan negara! *sambil putar Syubbanul waton

Runtutan sejarah kenapa Hari Santri Nasional pantas ada mengingatkan saya dengan film Sang Kiai besutan sutradara Rako Prijanto yang berhasil membuat saya benar-benar ikut larut terharu, merinding, pilu saat melihat pemeran Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari yang memerankan beliau saat ditawan oleh pihak Jepang. Kamu bisa coba cari filmnya dan tonton deh! Mungkin memang ada sedikit disturb dengan kisah Harun, salah satu santri dari KH. Hasyim Asy’ari. Namun kamu pasti bisa ambil sisi perjuangan para santri dan kiai pada saat kemerdekaan.

Saya memang tak tahu banyak tentang sejarah. Hari Pahlawan-adalah ujung dari resolusi yang dibuat oleh KH. Hasyim Asya’ri, saya membaca beberapa sumber salah satunya adalah Wikipedia bahwa saat Jepang kalah perang, Sekutu mulai datang. Soekarno sebagai presiden saat itu mengirim utusannya ke Tebuireng untuk meminta KH Hasyim Asy’ari membantu mempertahankan kemerdekaan. KH Hasyim Asy’ari menjawab permintaan Soekarno dengan mengeluarkan Resolusi Jihad yang membuat semangat para santri berkobar dan berduyun duyun tanpa rasa takut melawan sekutu di Surabaya. Nah, pada saat itu adalah tanggal 22 Oktober 1945 dimana KH Hasyim Asy’ari mencetuskan resolusi jihad untuk mencegah kembalinya tentara kolonial Belanda yang mengatasnamakan NICA (Nederlandsch Indië Civil Administratie). Kamu bisa membaca sejarahnya secara singkat disini.

Hari Santri bukan membuat per-kotak-kotak-an antar bangsa kok!?

A post shared by Ria Lyzara (@rialyzara) on

Sebagai seseorang yang gak pernah “nyantri” di pesantren, saya justru bahagia karena ada Hari Santri Nasional. Dari Hari Santri Nasional, saya jadi bisa ikut semangat layaknya seorang santri. Selain itu, semangat berbangsa dan bertanah air perlu dicontoh, jadi toleransi antar umat semakin kuat. Pembahasan yang SARA-pun seharusnya dapat dihindari bukan? Mau Agama kamu apapun, ras dan suku mana pun, dan dari golongan apapun, kita tetap satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa!

Saya follow akun-akun komunitas santri untuk tahu apa saja sih kegiatan santri itu. Semangat belajar mereka perlu dicontoh. Pendidikan ala pesantren juga perlu mulai dipahami, para santri ini gak pernah jauh dari kitab dan buku lho!

Saya pernah ikut pesantren kilat, hanya satu pekan, padahal seharusnya pesantren kilat saat Ramadhan itu 21 hari. Karena masih ada masa kuliah, jadi saya ikut di 7 hari terakhir pesantren kilat saat Ramadhan kemaren. Saya merasakan rasanya jadi santri walau hanya sesaat. Melihat kehidupan para santri dari jarak yang sangat dekat, ikut di dalamnya meski hanya 7 hari.

Bangun diawal waktu, mulai beribadah, ro’an (kerja bakti) singkat di pagi hari, mengurus diri dan sudah mulai belajar di pagi hari sampai petang tiba. Belajar menjadi suatu hal yang menyenangkan disini. Di lorong-lorong pesantren, di tangga, menunggu antrian kamar mandi, menunggu kelas dimulai dan hampir di sela aktifitas-aktifitas lainnya, pasti terselip membaca buku atau kitab dan bahkan hafalan, saling menyimak dan terlihat mereka bahagia. Awesome!

Saya yang sekolah di luar lingkungan pesantren yang jam belajar di sekolah tidak sepadat di pesantren bahkan terkadang masih mengeluh jika begitu banyak tugas. Nah, Hari Santri Nasional ini semacam jadi “pembangkit semangat”, para santri dengan segala ke-padat-an aktifitasnya bisa do the best for everything, masak saya enggak? Selain dari sisi tholabul ilmi yang super keren ditambah ibadah yang tak pernah lekang oleh kenyamanan, bukan berarti mereka tidak mengikuti jaman lho!

Santri-santri yang terkadang dapat label “ndeso” itu tak sepenuhnya begitu lho! saya masih sering tertarik mengenai kehidupan santri dan pesantren, saya juga memiliki beberapa buku tentang kehidupan santri. Misalnya buku “Berguru ke Kiai Bule”, buku ini menceritakan kisah para santri yang sedang bekerja baik jadi TKI/TKW, Mahasiswa ataupun Professor di Amerika dan Kanada. Ya, mereka SANTRI! Bukan kaum sarungan yang jago kandang.

Atau buku Negeri 5 Menara yang sudah ada filmnya. Saya juga melihat kehidupan para santri melalui buku dan film itu. Santri dan Mimpi. Aish, mereka keren kan! Beberapa teman baik di kampus saat sarjana atau paska, teman-teman komunitas, pengusaha yang sudah sukses, penggerak komunitas sosial, yang mereka ini ternyata seorang santri. Dan jangan tanya betapa kerennya mereka yang begitu baik dalam self-driving ataupun berkomunitas 🙂

So, Selamat Hari Santri Nasional untuk para santri Indonesia di dunia!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *