IMG-20170713-WA0026

Menanti Matahari di Bukit Tranggulasih

Saya menikmati embusan angin yang mengenai kulit muka. Sejuk. Dingin. Dan agak lengket karena saya hanya mandi pada pagi hari. Sebelumnya, sesekali saya memejamkan mata dan mulut tak henti-hentinya menyebut nama Tuhan. Jalan menuju Bukit Tranggulasih ini memang sebuah tantangan. Awalnya saya takut menaiki Truk besar terbuka yang biasanya digunakan untuk mengangkut hewan atau pasir dan hasil bumi lainnya. Meskipun sebetulnya bukan karena naik truknya, namun yang membuat khawatir adalah jalannya yang terlihat menanjak, tak terlalu lebar dan langit yang mulai menggelap.

Kekhawatiran mulai terobati saat saya berdiri dalam truk yang sedang berjalan itu dan mulai menikmati alam Banyumas. Tak lagi memejamkan mata, saya mulai membuka mata dan masih nampak asri-nya Banyumas meskipun langit menggelap, masih terlihat pohon-pohon dan rumah warga yang terlihat ramah lingkungan. Kalimat istighfar yang tadinya saya komat-kamitkan, berubah menjadi kalimat tasbih, saya bersyukur bisa menikmati pemandangan ini, perjalanan ini dan dengan orang-orang hebat ini.

Kehadiran saya di Banyumas ini merupakan kali pertama dan sayapun tak tau menau tentang Banyumas. “Banyumas iku panas lho, mengko tambah ireng (gelap untuk kulit), yakin pe rono? Kan tas mari.” Kalimat dari ibuk yang tentu saja membuat dagdigdug, ah jangan-jangan gak boleh nih.

Kekhawatiran ibuk ini mungkin karena saya baru sembuh dari demam yang cukup lama, dan beliau tau tentang Banyumas itu panas dari tetangga yang baru mudik dari sana.

“Yak.. kan kulo memang ireng buk, sampun dangu mboten ketemu rencang-rencang blog, pengen banget ee”,  saya menjawab dan dilanjutkan dengan rayuan lain agar diperbolehkan.  (read:  Yak.. kan saya memang berkulit gelap buk, sudah lama tidak bertemu teman-teman blog, pengen banget nih.”

Dan setelah sehari, akhirnya malamnya ibuk mengijinkan. Yay! Alhamdulillah \(^^\). Saya dibantu oleh Komunitas Blogger Madura (Plat M) dalam proses registrasi dan berharap terpilih dalam 20 blogger yang bertandang ke Banyumas dalam acara Juguran Blogger Indonesia 2017.

Camping di bawah langit yang penuh bintang di atas kota yang gemerlap

Hari kedua di Banyumas, kami, 20 Blogger yang terpilih dalam acara Juguran Blogger ini bermalam di Bukit Tranggulasih, Kedung Banteng. Bukit Tranggulasih ini terletak di Lereng Gunung Slamet. Menyebut nama gunung, saya mulai merinding senang. Ini kali pertama saya naik gunung meskipun hanya sampai lereng gunung. Senang, tentu saja!

Beberapa Tenda hijau sudah terpasang rapih, wah nikmatnya. Kami begitu dimanjakan. Teringat saat terakhir camping menggunakan tenda adalah saat Persami (Perkemahan Sabtu Minggu) di tahun ajaran 2002-2003, saya yang baru masuk kelas 4 SD sudah harus belajar memasang tenda dengan pasak-pasaknya. Mendirikan satu tenda saja saat itu penuh dengan perjuangan. Hehe

warung bukit tranggulasih

Kami menanti makan malam dengan mulai berbincang di warung yang terletak di belakang tenda kami. Camping di Bukit Tranggulasih ini memang sangat memudahkan pengunjungnya, ada warung dan toilet yang mudah dijumpai. Apalagi tempat didirikan tenda kami ini sangat-sangat pas. Pas dalam menikmati indahnya alam, pas karena dekat warung dan toilet serta sangat pas karena titik-titik berfoto yang cantik ada di sekitar sini. Yay!

Sambil menanti makan malam, kami menikmati pemandangan malam yang indah dari Bukit Tranggulasih. Bintang belum banyak muncul, karena mungkin memang belum begitu malam. Pandanganku beralih ke gemerlap di bawah sana. Pemandangan gemerlap lampu-lampu di kota. indah!

Saya kembali ke warung dan makan malam sudah siap. Menu kali ini adalah ayam goreng, tempe mendoan khas Banyumas, sayur daun paku pakis dan kecombrang. Saya menikmati sayur daun paku pakis dan kecombrang, sangat-sangat menikmati, sampai-sampai saya tambah dua kali! Bumbu seperti apa sehingga sayuran yang sejujurnya saya belum pernah makan ini begitu lezat. Ah, saya lupa menanyakan pada ibu warung bagaimana cara memasaknya, saya hanya terus lahap memakannya dan menikmatinya.

Hangatnya Api Unggun dan Obrolan yang tak kupahami

api unggun

Yay Api Unggun!! Saya yang mulai kedinginan mendekati api unggun yang sedang dikelilingi bapak-bapak dan mas-mas blogger yang menikmati hangatnya api unggun. Saya tak sendiri, Ella dan Tiwwi, dua blogger mahasiswi Purwokerto bersama saya. Ibu-ibu Blogger memilih untuk bercengkrama di warung.

Fyuh, akhirnya lumayan hangat, saya mulai membatin. Kami bertiga mulai mendengarkan mereka ngobrol. Bermacam-macam, ada yang saya pahami dan ada yang tak saya pahami.

Keseruan ngobrolin hal-hal penting, mungkin penting dan gak penting. Ngobrolin daerah-daerah di Indonesia dan tiba-tiba India, negara-negara Asia lainnya. Dan semua percakapan itu selalu kembali ke Vika! Siapa Vika? Hehe, seorang wanita yang berhasil menjadi bahan pembicaraan para blogger keren ini adalah PR dari Hotel Santika yang siang tadi mengusik mereka. Pembicaraan mulai muter-muter lagi dan terkadang mulai tidak jelas, saya mulai diam-diam pergi dan menuju warung. Peace

Di warung, bersama ibu-ibu Blogger, pembicaraannya tentu berbeda. Eh, ada mas-mas Blogger juga disini. Yang diobrolin lebih serius, sedikit tak paham karena nampaknya sudah cukup lama mereka serius membahas hal tersebut. Saya hanya terdiam, sesekali mengecek HP dan mencuri men-dengar pembicaraan mereka.

Menanti Matahari dan Mulai cekrak cekrek sana sini

Pagi Tranggulasih yang menawan. Saya sangat menanti pagi itu, mungkin memang tak sebanding dengan menantikanmu.. #eh, saya menikmati terbitnya matahari dan berfoto di depan tenda, dua hal yang mungkin sederhana bagi orang lain, tapi tidak untukku. Saya seperti orang norak yang tak pernah camping. Sejujurnya, saya suka sekali camping, tidur di tenda, naik-naik ke bukit, tapi kesempatan belum sering datang. Bahkan ini kali pertama tidur di tenda setelah kelas 4 SD dulu. Saya ingin mengabadikan momen ini tentunya. Foto di depan tenda, harus!

Super beruntung karena para Blogger yang ikutan di Juguran Blogger ini semuanya ahli motret. Jadi bahagia karena ada yang motretin dan hasilnya super cakep 😀

Jika ingin lebih naik ke atas, kita bisa mendapatkan spot yang lebih banyak. Ada Bukit Cinta, beberapa bangku cantik, jembatan panjang yang berujung pada tempat seperti balkon dan semacam spot foto mini Ninja Warrior  jembatan bambu yang cukup tinggi untuk dinaiki.

Keseruan ini berlangsung hingga kami menuju tempat selanjutnya yang akan dikunjungi dalam acara Juguran Blogger. Kami menggunakan Open Cup, truk terbuka yang sempat saya ceritakan diatas. Kali ini ada dua tipe Open Cup, saya memilih Kol Gundul, penyebutan mobil Pick Up di Kediri. Kali ini saya bisa duduk dan lebih menikmati pemandangan saat turun menuju Bale Raos, tempat kami akan menikmati kopi dan filosofinya.

7 thoughts on “Menanti Matahari di Bukit Tranggulasih”

  1. Sebelum naik ke tranggulasih aku Keder duluan. Membayangkan susahnya naik ke atas bukit. Eh ternyata walau tinggi tidak begitu susah kok setidaknya bagi ibu ibu seperti saya masih bisa dijangkau. Itu penting hehehe…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *